Minggu, 10 Agustus 2008

Di keheningan malam yang syahdu ditemani rintikan demi rintikan, tetesan demi tetesan air langit yang seolah mensucikan bumi, yang telah lalu terbakar kebencian hari yang menyala...

Kesyahduan ini pun seakan terhenti memecah keheningan hati yang ingin merajuk dengan mimpi. Dingin tak lagi terasa, malam tak lagi teringat. Air langit yang menetes, perlahan membuat tubuh yang leleh ini terjaga seakan terbuka kembali lembar demi lembar catatan waktu yang terkubur dan terlupa. Tersibak lembar senyuman yang menghangatkan, senyuman yang mengetarkan gerbang cinta.
Indah...indah sekali...

Ah...sakit...

Lembar senyuman yang menyakitkan. Dingin dan menyakitkan. Layaknya air yang membeku dan kau peluk dengan jemari. Dingin yang menusuk hingga hati ini membeku. Tak perduli dengan senyum itu, suara itu, juga harum yang tertingal.

Wahai setiap indra yang membatu...
Wahai raga yang selalu menopang...
Wahai jiwa yang selalu bersemangat...

Kenapa kalian tak kunjung merajuk lalu meradu, bergumul degan malam berselimut mimpi, cita dan do'a. Kenapa kalian terjaga dan rahasia apa lagi yangkan tersingkap.

Kita bertemu dalam lagu dengan bait keingintahuan, dengan hembusan yang memilukan degan latar yang seakan takkan mungkin tersibak dan hilang...

Lembar waktu yang hilang, hanya menyisakan kehampaan dalam hati.

Wahai esok, mekhluk misteri yang anggun...
Wahai waktu, makhluk yang takdapat kembali dan mencatat setiap kejadian di muka bumi...
dan...
Wahai diri, siapkah engkau menghadapi esok dan mencatat serta mempelajari disetiap kejadian yangkan terlalui.

Manusia hanya makhluk yang hanya dapat merencana dinaungi sistem Maha rencana Maha pemilik hati, pemilik diri bernaung dalam singgasana Termegah 'Arasy' yang Maha Indah dan tinggi.

Tidak ada komentar: